Kopi Robusta Liwa, Daya Saing Perekonomian Lampung Barat

29 07 2016

Perkembangan perekonomian Kabupaten Lampung Barat hingga tahun 2015 masih sangat dipengaruhi dominasi perkembangan komoditi Kopi Robusta Liwa sebagai komoditi utama perekonomian yang ada. Ungkapan ini terlihat jelas dengan tingginya dominasi katagori Pertanian pada perkebunan tahunan (Kopi) dalam pertumbuhan PDRB Lampung Barat yang pada tahun 2014 mencapai 15,50 persen setelah tanaman hortikultura tahunan (18,51 %).

Hal tersebut dipertegas dengan perkembangan produksi komoditas perkebunan khususnya kopi Robusta dibandingkan dengan laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Lampung Barat selama ini pada tabel dan grafik berikut :

 

Peningkatan Produksi kopi Robusta Liwa, Pertumbuhan ekonomi Lampung

dan Pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung Tahun 2009 s.d 2014

Tahun

Produksi Kopi Robusta Liwa (Ton) Pertumbuhan Ekonomi Lampung Barat (%) Pertumbuhan Ekonomi Lampung (%)
1 2 3

4

2009

46.833 5,64 5,26

2010

60.446

5,72

5,88

2011

27.752

4,54

6,43

2012 61.807 6,65

6,53

2013

48.098 7,02 5,97
2014 42.745 5,57

5,08

 

Pada Tahun 2015 produksi kopi robusta mencapai 52.644 ton. Fluktuasi produksi kopi ini diikuti dengan fluktuasi perkembangan harga kopi rata-rata di Kabupaten Lampung Barat tahun 2013 – 2015 dengan harga terendah Rp. 14.750 hingga Rp. 22.700 (data statitstik perkebunan).

Pembangunan ekonomi merupakan usaha yang dilakukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperbesar kesempatan kerja dan mengusahakan pergeseran kegiatan ekonomi dari katagori primer ke sekunder atau tersier. Salah satu indikator yang menunjukkan capaian keberhasilan pembangunan ekonomi daerah yaitu tinggi rendahnya Pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB), PDRB perkapita maupun laju pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai.

PDRB Kabupaten Lampung Barat tahun 2014 mengalami peningkatan yang cukup baik dengan bertambahnya nilai  aktivitas ekonomi yang ada di Kabupaten Lampung Barat terhadap PDRB tahun 2008.   Peningkatan ini ditunjukkan dengan selisih PDRB tahun 2008 sebesar 2,25 Triliun menjadi 4,65 triliun di tahun 2014 atau meningkat  106 Persen lebih (Tabel 1).  Peningkatan ini menggambarkan pula adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat yang ditunjukkan dari nilai PDRB perkapita dari 5,49 juta di tahun 2008 menjadi 24,43 juta pada tahun 2014 atau meningkat 344 persen lebih.

 

Tabel 1. PDRB dan Laju Pertumbuhan Ekonomi

Kabupaten Lampung Barat Tahun 2008 s.d. 2014

TAHUN

PDRB (JUTA Rp.)

PDRB PERKAPITA (Rp.)          

ADHB ADHK

ADHB

(1)

(2) (3) (4)

2008

2.252.210 1.351.526

5.496.681

2009

2.527.210 1.427.754

6.095.758

2010

2.825.937 1.509.474

6.743.884

2011

3.381.641    1.578.013

7.983.363

2012 3.972.426 1.682.894

9.181.100

2013

4.160.119 3.682.581

14.165.555

2014

4.652.679 3.887.690

24.437.888

Sumber : PDRB Kabupaten Lampung Barat Tahun 2014, diolah.

 

Namun demikian, aktivitas perekonomian Kabupaten Lampung Barat masih didominasi oleh katagori pertanian mencapai 53,43 persen. Tingginya pengaruh aktivitas pertanian dalam pembentukan aktivitas perekonomian di Kabupaten Lampung Barat, maka memicu kebijakan pembangunan yang dilakukan harus memperhatikan katagori pertanian agar dapat dikelola dilindungi, dimanfaatkan secara terencana dan terpadu.

Tingginya peran katagori pertanian ini dalam aktivitas ekonomi Kabupaten Lampung Barat mengakibatkan fluktuasi pertumbuhann pertanian sangat mempengaruhi pertumbuhan perekonomian daerah. Sementara tantangan dengan masih tingginya petani yang bersifat subsisten dengan lahan yang sangat sempit memerlukan penyelesaian melalui program pembangunan yang terus dilaksanakan. Aktivitas ini sejalan dengan tingginya rumah tangga pengelola tanaman kopi di Kabupaten Lampung Barat berdasarkan Sensus Pertanian tahun 2013 (ST 2013) sebanyak 58.047 rumah tangga atau 64,26% dari keseluruhan rumah tangga Kabupaten Lampung Barat

Perkembangan produksi katagori pertanian dalam memajukan perekonomian daerah perlu didorong adanya pergeseran ke arah katagori aktivitas ekonomi dalam industri makanan dan minuman yang pada tahun 2014 mengalami peningkatan pertumbuhannya dari 2.06 persen tahun 2010 menjadi 3,47 persen pada tahun 2014. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Lampung Barat yang terus memacu tumbuhnya industri kecil menengah pengolah kopi bubuk sebagai komoditas utama di Kabupaten Lampung Barat. Kemudahan dalam struktur perizinan dan penyedia sarana dan prasarana terus dilakukan guna meningkatkan nilai tambah  komoditas pertanian khususnya perkebunan tahunan (kopi) dan hortikultura tahunan (pisang) dalam katagori aktivitas ekonomi pada Industri pengolahan makanan dan minuman. Hingga tahun 2015 jumlah industri pengolah kopi bubuk mencapai 65 IKM dengan 22 IKM penghasil kopi luwak dan 43 penghasil kopi non luwak (data Dinas Koperindag dan Pasar, 2015)

 

Kebijakan Pemerintah Lampung Barat dalam menjaga urat nadi perekonomian daerah yaitu kopi robusta dilakukan melalui beberapa kebijakan program pembangunan kawasan antara lain :

  1. Pengembangan kawasan klaster industri kopi di Kecamatan Air Hitam sejak tahun 2009,
  2. Pengembangan sentra produsen kopi luwak di Kelurahan Way Mengaku sejak tahun 2010,
  3. Pengembangan kawasan agropolitan Way Tenong tahun 2015.
  4. Penumbuhan industri kecil pengolah kopi bubuk
  5. Pengembangan AgroTekno Park Kopi Robusta Liwa Lampung (ATP KoRoLLa)
  6. Memacu tumbuhnya sentra pemasaran kopi di pusat perekonomian Lampung.

Fluktuasi produksi dan harga kopi robusta dunia sangat mempengaruhi perekonomian masyarakat Lampung Barat, sehingga Pemerintah Kabupaten Lampung Barat memfasilitasi masyarakatnya dalam meningkatkan pendapatan petani kopi  melalui beberapa kebijakan program yang dilakukan sejak tahun 2008 diantaranya :

  1. Pengembangan diversifikasi usaha tani kopi dengan komoditas musiman yaitu pisang, cabe rawit, dan kakao.
  2. Integrasi kopi dengan ternak kambing PE (peranakan Etawa)
  3. Penguatan kelembagaan dan kemitraan budidaya serta kemitraan pemasaran kopi
  4. Penyediaan sarana prasarana pasca panen dan pengolahan kopi
  5. Pembinaan mutu dan kemasan kopi bubuk
  6. Mendorong peningkatan konsumsi kopi robusta dalam daerah dengan semboyan “Kopi Robusta Liwa, Citarasa spesial Kopi Lampung” 

 

Selain itu, dalam rangka mendorong percepatan perekonomian dengan lokomotif komoditi kopi robusta yang pada tahun 2014 telah mendapatkan pengakuan Indikasi Geografis (IG) Kopi Robusta Lampung, maka berbagai aktivitas pengembangan kopi robusta terus dilakukan oleh berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah. Aktivitas dimaksud antara lain :

  1. Fasilitasi regulasi seperti sertifikasi kehalalan, Barcode perdagangan, kemudahan perizinan, dan sertifikasi organik
  2. Kemitraan sertifikasi budidaya melalui mitra pembinaan dan pemasaran seperti sertifikasi 4 C. Utz Coffee, Raint Forest, melalui mitra petani yaitu PT. IndoCafco, PT. Nestle maupun mitra lainnya.

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: