Menanti Lahirnya Kopi Way Tenong atau Kopi Rigis sebagai Robusta Coffee Specialty di Lampung, Indonesia

6 12 2010

Munculnya kerinduan dan harapan akan adanya kopi specialty lahir di kabupaten pemilik lahan dan produksi kopi robusta terbesar di Lampung ini, bukanlah suatu yang mengherankan dan tidak masuk akal. Luas areal perkebunan kopi di Kabupaten Lampung Barat pada tahun 2009 memanfaatkan sebagian besar luas kawasan budidaya yang ada mencapai 43,32% (60.391 ha) dari 124.987,63 ha dengan produksinya yang turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di kabupaten konservasi ini. Hal ini terlihat dari fluktuasi produksi kopi robusta dan  pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lampung Barat tahun 2005 sampai dengan 2009 pada Tabel 1.

Tabel 1.  Fluktuasi Produksi Kopi Robusta dan Pertumbuhan Ekonomi

Kabupaten Lampung Barat Tahun 2005 sampai dengan 2009

Tahun

Produksi Kopi Robusta

(ton)

Pertumbuhan Ekonomi

(%)

PDRB ADHK Lampung Barat

(Rp. Juta)

PDRB ADHK

Subsektor Perkebunan

(Rp.Juta) (%)
2005 40.189 4,43 1.172.887,75 331.496,21 28,26
2006 24.124 3,50 1.214.617,69 313.691,55 25,83
2007 38.419 5,88 1.286.065,52 339.291,70 26,38
2008 28,712 5,09 1.351.526,38 351.688,49 26,02
2009 46.833 5,64 1.427.754,34 369.881,65 25,91

Bila melihat fluktuasi yang terjadi pada besar sumbangan subsektor perkebunan tersebut, maka semakin yakin akan adanya kekuatan besar yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di kabupaten ini berasal dari komoditas perkebunan khususnya kopi robusta. Peran sub sektor perkebunan ini sangatlah didominasi oleh produksi komoditas kopi didalamnya bila melihat potensi produksi komoditas perkebunan yang ada di Kabupaten Lampung Barat tahun 2009 (lihat potensi lahan, produksi dan produktivitas tahun 2009).

Kekuatan besar pendorong pertumbuhan ekonomi yang dimiliki komoditas kopi ini, diiringi dengan adanya prestasi pada tahun 2009 sebagai mutu kopi terbaik nasional pada ajang lomba yang diselenggarakan oleh Departemen Pertanian dan AEKI serta sebagai pemanfaat tehnologi pasca panen terbaik Provinsi Lampung pada lomba yang diselenggarakan Dinas Perkebunan Provinsi Lampung di tahun yang sama (baca : Kopi Lampung Barat, Mutu Terbaik Nasional 2009)

Kerinduan akan kopi robusta specialty ini seakan semakin menyesakkan dada yang memunculkan harapan akan adanya seorang barista (ahli kopi) yang akan menghantarkan mutu kopi bubuk robusta Way Tenong maupun Rigis nantinya menjadi kopi robusta specialty.  Terbayang sebuah harap adanya barista asal IKM/UMKM, barista asal Gapoktan/KUB, barista asal Instansi pemerintah yang membentuk sebuah komunitas kopi robusta specialty di Lampung Barat, Lampung, Indonesia. Kapan?

Barista Lampung Barat, bagaimana?

Barista merupakan ahli kopi yang memiliki kemampuan meracik, meramu dan memunculkan kopi bermutu (spesial). Hingga saat ini Lampung Barat belum memiliki seorang barista. Seseorang untuk menjadi barista harus memiliki pengetahuan, apa dan bagaimana menghasilkan/mengolah kopi bermutu. Hal ini menuntut adanya peran para pihak untuk segera memfasilitasi lahirnya sederetan Barista Lampung Barat.

Keinginan akan adanya barista ini dilandasi pada tujuan kebijakan pengembangan klaster kopi Lampung Barat yaitu munculnya kopi specialty Lampung Barat.  Sehingga sebuah keharusan adanya barista menjadi tekanan tersendiri bagi keberhasilan kebijakan tersebut.

Beberapa lembaga yang dirasakan mampu memfasilitasi proses kelahiran barista ini antara lain Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (PUSLITKOKA) Indonesia Jember dengan adanya pelatihan uji cita rasa kopi. Selain itu, pada tahun 2010 telah beroperasi Universita Del Caffe di Jakarta yang berpusat di Italia.

Lamakah?

Ternyata untuk meningkatkan kemampuan seseorang menjadi barista hanya memerlukan 4 hari dengan keseriusan niat, hati dan cita-cita.  Sederhana tentunya. Namun demikian semua ini tetap memerlukan adanya dorongan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat sebagai upaya percepatan.

Bagaimana Universita Del Caffe?

Seperti dilansir pada Radar Lampung Sabtu 4 Desember 2010 : Universita Del Caffe, Kampus Para “Mahasiswa” yang Belajar tentang Kopi, di Jakarta dengan Pusatnya di Trieste, Italia. Universitas ini memiliki gedung berlantai tiga dan terletak di jalan Hasyim Asy’ari, Jakarta Pusat dengan luas setiap lantai sekitar 120 meter persegi. “Dengan kuliah hanya empat hari, 30 detik yang menentukan rasa kopi.”

Tempat kuliah berada di lantai 3, sementara lantai satu dan dua untuk tempat pendaftaran dan administrasi. Suasana tempat belajar sekilas mirip laboratorium. Hanya tidak ada gelas ukur. Yang ada sejumlah perlengkapan membuat dan meracik kopi seperti mesin pembuat ekspreso dan grinder. Selain itu ratusan gelas dan cangkir tertata rapi di dalam kardus. Begitu pula dengan biji-bijan kopi yang sudah ditata sedemikian rupa, siap untuk diracik.

Dua puluh mahasiswa yang sedang belajar saat ini adalah angkatan kedua sejak dibuka pada bulan Oktober 2010 dan untuk angkatan ketiga akan dibuka pada Bulan Desember 2010. Universitas kopi tersebut punya sistem perkuliahan yang sangat singkat : hanya empat hari. Setiap hari, kuliah dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 17.00.  Setelah lulus, para mahasiswa berhak menyandang gelar barista (ahli kopi). Sertifikatnya pun dikeluarkan Illy, sebuah merek kopi terkenal di Italia. Pelaksanaan perkuliahan dilakukan dengan tenaga pengajarnya hanya seorang yang merangkap sebagai rektor yaitu Michael J. Gibbons.

Ketika Radar Lampung berada disana, Gibbons terlihat sedang memerintahkan para mahasiswa untuk membuat espresso (kopi hitam) dalam takaran 30 mililiter. “I want 30 seconds Guys, I don’t want 25 or 35 (Saya hanya ingin 30 detik, bukan 25 atau 35 detik),” Kata Gibbons.

Maksudnya 30 detik itu adalah waktu ekstraksi 30 ml kopi saat dialirkan dari mesin ke cangkir. Takaran kopinya sangat spesifik, 6 hingga 7 gram untuk 30 ml espresso. Air yang digunakan pun harus berada pada kisaran suhu 90 derajat Celcius. “ Waktu 30 detik sangat vital untuk menentukan rasa kopi, “ tegas Gibbons sambil menunjukkan hasil karya para mahasiswanya.

Puluhan cangkir berisi espresso itu dipajang di meja paling tengah. Espresso yang disajikan masih tanpa gula. Peserta dianggap berhasil membuat espresso dalam takaran yang pas jika espresso memiliki tekstur permukaan yang kecoklatan kental namun dalamnya hitam pekat.

Sementara itu, yang underextraction (kurang ekstraksi) atau over-extraction (kelebihan) memiliki warna hanya kecokelatan atau hitam. “Rasanya pun berbeda. Coba saja,” ujar Gibbons.

Kopi dengan ekstraksi 30 detik memiliki aroma kuat seperti kopi arabika, namun rasa pahitnya khas. Berbeda dari hasil ekstraksi lain yang masih memiliki rasa pahit yang sangat kuat. “Kopi jenis ini (ekstraksi 30 detik, Red) banyak diminta customer (pembeli). Rasanya, wow…,” ungkap pria 40-an tahun tersebut mengekspresikan rasa.

Espresso merupakan dasar ppraktik di Universita Del Coffe. Dalam bahasan yang disampaikan Gibbons, espresso adalah dasar untuk menjadi ahli kopi (barista). Jika mampu membuat espresso yang disukai banyak konsumen, mudah bagi seorang barista untuk meracik jenis kopi lain. “Belajar espresso ini juga harus diulang-ulang. Sebab, bisa jadi takaran Anda pas karena kebetulan saja,” tegas barista expert asal Australia itu.

Universita Del Caffe Jakarta hanya salah satu di antara pengembangan lembaga pendidikan barista milik Illy, sebuah produsen kopi ternama asal Italia. Selain di Jakarta, Cabang Universita Del Caffe di kawasan Asia terdapat di Tiongkok, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Gibbon menyatakan, para mahasiswa yang belajar perkopian di kampusnya berasal dari berbagai latar belakang pendidikan. Biasanya, mereka yang datang adalah para calon barista dari hotel berbintang lima. “Sekarang ini ada pegawai Hotel Le Meridien yang dikirim belajar disini,” katanya.

Selain profesional dari otel, ada sejumlah “mahasiswa” yang belajar karena ingin membuka bisnis kafe. “Mereka semua sudah memiliki pekerjaan utama. Nah, ini sebagai side job (pekerjaan sampingan),” jelas pria yang profesi utamanya adalah brand and development manager Illy Indonesia itu.

Pada dua hari pertama masa kuliah, para peserta akan diberi materi untuk menjadi espresso expert. Menurut Gibbons, seorang espresso expert harus memahami sejarah kopi. Selanjutnya, espresso expert harus paham cara mengolah biji kopi menjadi bubuk. Pengolahan biji tersebut juga menentukan rasa berbagai mesin olahan kopi. “Seorang espresso expert harus menghargai biji kopi,” jelasnya.

espresso expert juga harus mengenal jenis-jenis biji kopi. Biji kopi yang saat ini berada di pasaran adalah jenis arabika dan robusta. Arabika memiliki ciri biji yang besar namun rendah kafein sementara itu robusta memiliki biji yang kecil namun rasanya lebih kuat (jpnn/c1/niz).

Selanjutnya bagaimana?

Semoga kerinduan akan hadirnya Barista Lampung Barat semakin mengkristal. Adanya Barista yang merupakan petugas dengan kemampuan uji citarasa sertifikasi Puslitkoka dan Barista yang merupakan penghasil kopi bubuk sertifikasi Universita Del Caffe…. Hemmm Semoga. (Sumarlin)


Aksi

Information

One response

13 12 2010
myun

terima kasih postingannya ya..
kunjungi halaman kami ya !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: