Kemitraan Kopi

30 10 2007

 oleh :

Sumarlin, SP   

Membicarakan masalah komoditas kopi di Lampung rasanya tidak akan pernah ada habisnya. Waktu yang diperlukan guna mengkancah seputar masalah ini tidak cukup hanya dengan menghabiskan secangkir kopi yang nikmat.  Ada berbagai persoalan yang mungkin belum satu pun tertangani secara utuh oleh kita semua.  Kopi memang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Lampung Barat, terutama penduduk wilayah pegunungan.  Salah satu pilar ekonomi masyarakat Lampung Barat berasal dari komoditas kopi.  Pernyataan ini sulit terbantahkan karena pada masa panen bulan April- September geliat roda perekonomian Lampung Barat sangat terasa.  Fenomena ini ditandai dengan hilir mudiknya truk pengangkut kopi, masuknya pedagang musiman dan ramainya pasar oleh pekebun kopi yang berada di wilayah pedalaman.Kenyataan saat ini, petani belum mampu menghasilkan biji kopi dengan mutu tinggi. Hal itu tercermin dari harga biji kopi masih rendah di tingkat petani. Beberapa faktor penyebab adalah minimnya sarana pengolahan, ketiadaan jaminan harga atas perbaikan mutu yang berimplikasi terhadap perilaku petani dalam pengolahan.  Dengan menggunakan istilah petani tinggi rendahnya mutu, belum memberikan pengaruh nyata, karena kopi masih ada pembelinya. Tolok ukur jual-beli biji kopi yang berlaku sekarang ini mengacu pada kuantitas semata.. Parameter dan indikator yang terkait dengan mutu, kadar air, biji cacat (defect System) dan terlebih lagi isu Ochratoxin masih terabaikan. Pada dasarnya petani sering mengikuti kursus atau pelatihan menyangkut perbaikan mutu hasil komoditi kopi. Namun ketiadaan insentif atas mutu baik dan rendah dari pedagang pengumpul dan rendahnya pengawasan mutu, memicu petani mengabaikan sistem mutu yang disyaratkan oleh eksportir.  Upaya yang mungkin dilaksanakan untuk mengatasi masalah mutu dan pemasaran kopi saat ini adalah melalui perbaikan proses produksi produk primer kopi melalui pendekatan kemitraan pada eksportir secara langsung. Hal ini dapat dicapai dengan pendekatan pengolahan secara kelompok. Sasaran pengolahan kelompok adalah, pertama kepastian produksi produk primer, baik secara kualitatif dan kuantatif, dalam kurun waktu tertentu mengikuti kontrak pemasaran yang sudah dibuat, seperti halnya yang dilakukan oleh eksportir dan perkebunan besar.   Kedua, pendekatan model seperti ini mengajarkan pada kelompok akan arti penting kolektifitas dan kerjasama tim dalam mencapai harapan perbaikan pendapatan bersama.

 

 

 

 


Aksi

Information

One response

11 02 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: